Tasma Puja Korban Playing Victim Bantah Bangun Kebun di Desa Alim

Tasma Puja Korban Playing Victim Bantah Bangun Kebun di Desa Alim

WAWAN KUSWANDAR

INHU - Manajaman perkebunan kelapa sawit PT Tasma Puja di Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau menepis isu yang menyebut PT Tasma Puja menguasai lahan Desa Alim di Kecamatan Batang Cenaku.

Sebaliknya, tiga Desa yang menjadi mitra kerja Perusahaan setelah menyerahkan lahan untuk dibangun kebun Plasma dan kebun Inti adalah, Desa Kepayang Sari, Desa Anak Talang dan Desa Cenaku Kecil. 

"Hanya ketiga Desa ini yang menjadi wilayah kerja Perusahaan, Desa Alim tidak ada," tepis pelaksan tugas (Plt) Manager PT Tasma Puja, Wawan Kuswandar, Rabu (16/6/23) di Pematangreba.

Sanggahan ini disampaikan Perusahaan setelah oknum Kepala Desa (Kades) Alim, Edi Purnama mengklaim kebun Pola Mitra yang dibangun Perusahaan sejak tahun 2009 silam untuk warga Desa Kepayang Sari, tapi malah diclaim berada di wilayah Desa Alim.

Akibat claim lahan dari Kepala Desa Alim, warga dua desa (Alim vs Kepayang Sari) nyaris bentrok pekan kemarin. "Untungnya ada Polisi sehingga Kamtibmas terkendali," sambung Wawan.

Anehnya, kata Wawan, persoalan Claim lahan dari Desa Alim justru sengaja digadang-gadang setelah kebun Plasma milik warga Kepayang Sari sudah berproduksi.

Jika dirunut kebelakang, kata Wawan lagi, tahun 2009 silam PT Tasma Puja mulai membangun kebun Inti dan kebun Plasma setelah dapat izin dari Pemerintah dan didukung tiga Desa Kepayang Sari, Desa Anak Talang dan Desa Cenaku Kecil dengan menyerahkan lahan untuk dibangun kebun Plasma.

Sayangnya Desa Alim yang semula ikut dalam daftar calon penerima kebun Plasma tapi akhirnya di anulir karena tidak memenuhi syarat. "Kala itu lahan yang mereka serahkan sudah jadi perladangan Masyarakat bahkan jadi pemukiman, maka Desa Alim tidak jadi ikut serta berkebun sawit karena memang lahannya tidak tersedia," tegas Wawan.

Terkait isu tentang Peta dari Kementerian LHK yang menerangkan wilayah kerja Perusahaan berada di Desa Alim dan menjadi pedoman warga Desa Alim meng-claim kebun Pola mitra Kepayang Sari menjadi hak warga Alim, Perusahaan meragukan.

Sebab, setelah Perusahaan melakukan pengecekan ke DLHK tidak ditemukan adanya Peta dimaksud.  

Selama ini, kata Wawan, Perusahaan dituduh seolah-olah melakukan penyerobotan lahan. Padahal Perusahaan sendiri adalah fihak yang menjadi korban akibat sengketa batas dua desa. "Kami ini korban playing victim, mengeluarkan investasi membangun kebun tapi tidak dapat hasil, sawitnya juga dijarah, Satpam Perusahaan disandera," paparnya.

Menurut Perusahaan, persoalan ini mulai meruncing setelah seorang oknum Pengacara berinisial FB asal kabupaten tetangga menerima kuasa dari segelintir orang warga Desa Alim tapi mengaktualkan diri sudah mewakili Warga Desa Alim.

Pasca menerima kuasa, si oknum Pengacara malah turut memprovokasi Warga untuk melakukan penjarahan kebun milik Warga Kepayang Sari. "Dugaan kami ini oknum pengacara bukannya melakukan pendampingan hukum tapi malah memprovokasi warga untuk terjebak tindak pidana murni," sindir Wawan.

Atas perkara ini, warga Kepayang Sari Polisikan oknum pengacara inisial FB ke Mapolres Inhu di Rengat dengan tuduhan dugaan provokasi penjarahan sawit berulang ulang. Sedangkan oknum pengacara inisial FB diminta tanggapan dari Watshap, tidak mengomentari. (Pahala Sihombing).