Ulah Monopoli DO TBS 'Hotli Siraid' di Inhu, Petani hingga Tengkulak jadi Korban, Berharap Polisi Selidik
Keterangan Gambar: Hotli Siraid direktur CV SAP yang diduga memonopoli TBS di PKS PT KAS.(dokumentasi sluhonline.com)
INHU - Praktik monopoli jual beli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di salah satu pengelolaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di-Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, telah berlangsung lama, akibatnya selain petani yang tidak dapat harga maksimal para pengusaha tengkulak atau peron juga terancam gulung tikar.
Seperti yang terjadi di Kecamatan Batang Cenaku, tepatnya di Desa Batu Papan, PKS PT Kanca Agro Sawita (KAS) diketahui hanya satu perusahaan saja yang dapat mengatur alur jual beli TBS disana, tepatnya melalui CV Sawit Alam Permai (SAP), Hotli Siraid sebagai direktur perusahaan itu.
Baca Juga :
Gatu salah seorang pengusaha tengkulak asal Desa Talang Mulya menyebutkan dirinya menjadi salah korban kekejaman monopoli TBS milik Hotli Siraid, bagaimana tidak usaha yang dirintis sejak bertahun-tahun lalu kini nyaris tutup akibat kalah bersaing harga beli dan jual.
"Begini ya, jelas saya menjadi korban monopoli, bagaimana tidak harga beli dan jual saya akan tetap kalah kepada para tengkulak yang menjadi binaan dari pada Hotli Siraid itu, harga tetap tidak akan dapat bersaing ulah monopoli itu," ujarnya beberapa waktu lalu.
Lebih jauh dirinya menjelaskan, jika diawal merintis usaha sebelum adanya praktik monopoli ia dapat membeli dan menjual TBS ke PKS PT KAS sekitar 20 ton tiap harinya, sebaliknya untuk saat ini mencapai 5 ton per hari saja sulit di capai.
"Ini menjadi momok menyeramkan bagi kami, bagaimana tidak saat usaha kamu tutup kami iklas tapi setidak itu karena pengelolaan kami yang salah bukan justru karena praktik monopoli yang menguntungkan segelintir pihak dengan cara-cara kotor," ujarnya.
Senada dengan itu Miswanto, salah seorang pengusaha tengkulak juga terancam gulung tikar, jika pada massa puncaknya ia dapat memperoleh 30 ton TBS tiap harinya justru saat ini hanya dapat 5 ton per hari. Malang sekarang dirinya harus menjual beberapa aset agar usaha tetap berjalan.
"Kiranya bapak-bapak pemimpin dapat melihat kenyataan pahit ini, tidak terkecuali pihak kepolisian dapat mengusut persoalan yang mengancam keberlangsungan hidup kami," ujarnya.
Bahkan untuk menghindari praktik monopoli TBS itu salah satu pengusaha tempatan terpaksa memilih mengirim TBS miliknya ke daerah lain, semata-mata langkah itu diambil agar usahanya tak berujung tutup. "Kalau disini saya menjual ke PKS PT KAS sudah pasti rugi karena praktik monopoli, karena setiap buah yang kita antar bukan di bayar langsung oleh pabrik melainkan pembayaran itu dilakukan oleh CV SAP, disinilah praktik monopoli itu karena harga tak lagi bersaing segat," ujarnya.
Masih menurut sumber, sudah menjadi rahasia umum kalau, beberapa tengkulak yang menjadi binaan Hotli Siraid mendapat harga 'spesial' saat pembayaran oleh CV SAP itu.
"Setiap yang antar TBS itu tetap akan di bayar oleh CV SAP tepatnya seorang bendaharawan yakni Yofsef Siraid (adik dari Hotli Siraid). Artinya yang boleh kontrak DO di PKS PT KAS hanya Hotli Siraid seorang, ini yang mematikan usaha orang-orang lain. Jika para tengkulak jadi korban maka petani juga wajib akan kena imbasnya," ungkapnya.
Terpisah Hotli Siraid saat dikonfirmasi perihal tudingan sebagai pelaku yang memonopoli TBS di PKS PT KAS saat dikonfirmasi melalui pesan singkat whatsapp 085265857XXX belum mendapatkan jawaban.
Data yang berhasil dihimpun Kabarriau.com Hotli Siraid sendiri diketahui pengusaha lokal asal Inhu sebagai suplayer TBS diberbagai PKS disana. Sedikitnya ada 4 CV yang diolah olehnya sebagai penjualan TBS ke tiap-tiap PKS yakni; CV Marina Palma, CV Berkah Sawit Tani, CV Sawit Alam Permai dan CV Putra Inhu.
Adapun modus operandinya CV SAP miliknya membawahi beberapa pemilik 'DO' dengan beberapa kode seperti Kode PTN 061, Kode 058, DO PTN 002, DO PTN 063, DO RPM01.
Hingga berita ini diterbitkan Kabarriau.com masih terus berupaya melakukan konfirmasi ulang terhadap Hotli Siraid yang dituding oleh para petani melakukan monopoli TBS tersebut.







